REVOLUSI SIMBOLIK SENI DAN ILMU, METAREVOLUSI HUMANISME GLOBAL

Oleh: Dr. M. Fadjroel Rachman[1]

 

 

 

Yang terhormat Rektor Insitut Seni Indonesia – Bali Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana.

Yang kami hormati para Wakil Rektor, Pimpinan Fakultas, Program Studi dan Dosen di lingkungan Insitut Seni Indonesia – Bali

Yang kami hormati para hadirin, seluruh kalangan pemerintahan, universitas, media, pengusaha dan masyarakat sipil pada umumnya.

Yang saya sayangi para Mahasiswa- Mahasiswi Insitut Seni Indonesia – Bali Selamat pagi para terpelajar sekalian,

 

Om Shanti Shanti Om

Saya sungguh terharu dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Institut Seni Indonesia – Bali (ISI Bali), atas kehormatan luar biasa kepada saya berupa Penghargaan Internasional Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha Tahun 2026. Rasa syukur juga saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan terimakasih kepada keluarga[1] serta para pihak yang mendukung kiprah pribadi maupun professional saya selama ini di Indonesia, Kazakhstan, Tajikistan dan dunia internasional.

Para terpelajar sekalian,

Panta Rhei! Herakleitos berucap, “Panta Rhei kai uden menei,“ atau “segalanya berubah dan tidak ada yang abadi.”[2] Perubahan geopolitik, geoekonomi, dan geokultural di panggung internasional hari-hari ini mengingatkan kita pada kemampuan manusia untuk menghancurkan manusia lainnya, bahkan menghancurkan dirinya sendiri. Kita bahkan bisa membayangkan, dengan rasa ngeri, lebih dari 8,3 miliar manusia (2026) lenyap pada suatu hari dan menjadikan bumi tanpa manusia! Bumi berputar sendirian mengelilingi matahari,

tanpa manusia. Hanya samudera bergelora, pegunungan sunyi tanpa fauna, padang stepa kosong bersalju, padang pasir kering berdebu, tanpa kehidupan. Kita bahkan bisa membayangkan, 17.770 pulau di Indonesia kosong tiba-tiba tanpa manusia, di Pantai Kuta dan Tanah Lot yang indah, hanya terdengar deburan ombak dan angin lalu, Gunung Agung yang megah sunyi-sepi tanpa kehidupan. Ya, kita bisa membayangkan bumi manusia tanpa manusia, karena kemampuan manusia untuk menghancurkan dirinya, tanpa batas, tanpa ampun. Sejarah manusia menunjukkan kemungkinan perubahan mengerikan tersebut.[3]

Ya segalanya berubah! Tentu saja seni dan ilmu juga berubah, tak terkecuali. Mungkinkah seni dan ilmu dapat memberikan obat penawar kerisauan kita menghadapi segala perubahan di dunia hari-hari ini? Pertanyaannya: a. Bagaimana perubahan seni dan ilmu itu dilakukan?; b. Apakah perubahan tersebut signifikan bagi kemajuan seni dan ilmu?; c. Apakah proses dan tujuannya memuliakan manusia dan meninggikan kemanusiaan? Saya meyakini kita semua yang berkumpul di perguruan tinggi sangat terhormat Institut Seni Indonesia – Bali atau ISI – Bali ini meyakini sebagai seniman, ilmuwan dan manusia, bahwa semua praktik sosial, termasuk seni dan ilmu itu untuk kehidupan, kemuliaan dan kebahagiaan manusia.

Teori Praktik Bourdieu: Sumber Revolusi Simbolik

Para terpelajar sekalian,

Ijinkan, saya memulai orasi ilmiah ini dengan menjelaskan teori yang dikembangkan

Pierre Bourdieu, seorang filsuf dan sosiolog Perancis terkemuka (1930 – 2002), yaitu Teori Praktik (Theory of Practice)[4] yang akan saya gunakan untuk menganalis dan menjawab tiga pertanyaan di atas. Teori Praktik Bourdieu ini juga saya gunakan untuk menyelesaikan riset

disertasi dalam ilmu komunikasi (communication science) di Universitas Indonesia.[5] Tentu sebagai peneliti dan akademisi, demikian juga dengan Ibu dan Bapak para guru besar, dosen, dan mahasiswa/i di ISI Bali ini, khususnya Rektor Prof. I Wayan Kun Adnyana tak akan pernah berhenti pada riset teoritis dan empiris tetapi juga ditantang untuk memasuki gerbang filsafat seni dan ilmu untuk menghadapi pertanyaan “apa itu seni dan apa itu ilmu?” Sehingga kita semua sangat akrab dengan karya klasik Socrates, Plato, Aristoteles, Rene Descartes, Immanuel Kant, David Hume, Francis Bacon, Thomas Hobbes, John Locke, Arthur Schopenhauer, Friedrich Nietzsche, Susanne K. Langer, George Santayana, Paul Ricoeur, Emmanuel Levinas, dan  tokoh-tokoh Frankfurt School seperti Theodor W. Adorno[6] dan Walter Benjamin[7], serta Michael Foucoult dan Jacques Derrida yang sejaman dengan Pierre Bourdieu,  hingga The Structure of Scientific Revolutions dari Thomas S. Kuhn[8] dan  The Logic of Scientific Discovery dari Karl R. Popper[9].

Teori Praktik adalah pusat pemikiran Bourdieu, menunjukkan hubungan triad (himpunan tiga unsur) antara habitus, modal (capital) dan arena (field). Dirumuskan Bourdieu sebagai hubungan antara [(habitus) (modal)] + arena = praktik] yang menghasilkan praktik sosial, dinisbahkan sebagai Rumus Bourdieu atau Bourdieu’s Equation.11 Rumus Bourdieu ini menjelaskan bahwa, “practice results from relations between one’s disposition (habitus) and one’s position in a field (capital), within the current state of play of that social arena (field).”[10] Praktik dihasilkan dari hubungan antara disposisi seseorang (habitus) dan posisi seseorang dalam suatu arena (capital) dalam kondisi saat ini dari arena sosial  (field) tersebut.

Seni dan ilmu merupakan arena (field) dalam kategori Bourdieu di atas. Habitus sebagai kompas menavigasi modal berupa portfolio modal simbolik, modal budaya, modal sosial dan modal ekonomi yang menentukan posisi (position) seseorang (individu atau kelas) dalam suatu arena. Habitus merupakan disposisi (kecenderungan) persepsi dan tingkah laku individu (kelas), adalah struktur mental atau kognitif yang terbentuk dari dialektika eksternalisasi internalitas (structuring structure) dan internalisasi eksternalitas (structured structure), atau structured structuring structure. Habitus bukanlah dualisme (dualism) subjektif versus objektif, melainkan dualitas (duality) subjektif dan objektif.

Ditegaskan Bourdieu bahwa habitus adalah, “sejarah yang menjadi sifat dasar” (menurut penulis dapat dikatakan sebagai algoritma sosial-historis atau social history algorithm).[11] Habitus ini pusat Teori Praktis, kata Bourdieu, “gagasan yang mendorong saya untuk menyelidiki apa yang memotivasi dan menentukan praktik sosial.”14 Habitus memberikan perspektif jelas terhadap motivasi dan asal-usul suatu praktik sosial. Memungkinkan pencocokan yang subjektif dan yang objektif, yang secara spontan (subjektif) kita rasakan untuk dilakukan, dan apa yang dipaksakan kondisi sosial (objektif) yang menuntut kita melakukan sesuatu.[12] Habitus dapat dinyatakan sebagai pernyataan pemikiran (state of mind); pernyataan tubuh (state of body); dan pernyataan eksistensi (state of being).[13] Habitus berfokus pada cara kita bertindak, merasa, berpikir, dan mewujud, yang mewakili pernyataan pemikiran, pernyataan tubuh, dan pernyataan eksistensi manusia atau agen sosial (social agency). Habitus menjadi  ‘second sense’ atau ‘second nature’.

Teori Praktik Bourdieu adalah dialektika struktur objektif (struktur sosial) dan struktur subjektif (struktur mental), sebuah terobosan teoritis dan praktis untuk keluar dari kebuntuan perdebatan subjektivisme versus objektivisme, struktur mental versus struktur sosial, kebebasan (free will) versus deterministik. Dalam pandangan Bourdieu maka seniman dan ilmuwan adalah agen dualitas (duality agency), agen dialektika struktur mental dan struktur sosial, agen dialektika structuring structure dan structured structure. Dengan demikian maka

tak ada seniman dan ilmuwan, bahkan siapa pun kita, umat manusia, yang dapat sendirian berkarya di luar struktur sosial, atau sebaliknya tak ada seniman, ilmuwan, dan umat manusia yang sepenuhnya tenggelam dalam struktur sosial.

Melalui perspektif Teori Praktik Bourdieu ini, bahkan Robinson Crusoe17 tak pernah sendirian terdampar di pulau tropis terpencil, karena membawa struktur mental dan struktur sosial berupa habitus dan modal yang terbentuk sejak masa kecil hingga membawa peralatan buatan manusia seperti pistol, amunisi, dua pedang berkarat dan pakaian sebagai objectified cultural capita18 ketika terdampar 28 tahun di arena baru, sebuah pulau tropis terpencil.

Teori Paradigma Kuhn: Akar Revolusi Ilmu

The Copernican Revolution was a revolution of ideas, a transformation in man’s conception of the universe,” kata Thomas S. Kuhn membuka buku The Copernican Revolution.[14] Copernicus, Newton, Lavoisier dan Einstein merupakan nama-nama favorit Kuhn dalam menunjukkan “the major turning points in scientific (revolutionary, pen) development.” Ia mengembangkan teori ilmu, khususnya menyoroti struktur perkembangan sains yang melahirkan gagasan tentang revolusi paradigma. Ia menegaskan bahwa setiap paradigma terdiri atas premis ontologi, epistemologi, metodologi, bahkan aksiologi (etika dan estetika). Kuhn mengkritik “pendekatan linier” Karl. R, Popper[15], dan mengatakan setiap

17 Daniel Defoe, Robinson Crusoe, (Great Britain: William Taylor, 1719). Diduga sekitar Venezuela dan Trinidad 18 Tiga jenis modal budaya: 1. Embodied (menubuh), in the form long-lasting dispostions the mind and body; 2. Objectified (benda budaya) in the form of cultural goods (paintings, statues, books, crafts, machines, etc ; 3. Institutionalized (terlembaga) educational and courses qualification and certificates..

observasi atau eksperimen tergantung paradigma atau disciplinary matrix. Falsifikasi Popper kata Kuhn tak berlaku, karena setiap paradigma tidak dapat saling diukur dengan standar yang sama (incommensurability). Perkembangan ilmu dalam kerangka filsafat ilmu Kuhn sebagai berikut: Pre-Science  => Normal Science => Anomaly => Crisis => Scientific Revolution => New Normal Science => Anomaly  => dan seterusnya terbuka tanpa batas. Sehingga tak ada alasan logis untuk mengatakan suatu paradigma final dan paling sempurna. Kuhn tetap menolak pandangan Popper bahwa masalah yang tak bisa dipecahkan oleh suatu paradigma sebagai basis falsifikasi. Kuhn menyebutnya sebagai anomali suatu paradigma saja, bila anomali memuncak, menyentuh bagian paling fundamental dari paradigma, maka krisis berkembang menuju revolusi dan akan menghasilkan ilmu biasa baru (new normal science). Menurut Kuhn, dari proses revolusi saintifik inilah, dunia mengenali revolusi heliosentris Copernicus, revolusi kimia Lavoisier, revolusi fisika Newton dan Einstein.

 Revolusi Simbolik Seni dan Ilmu ke Orderly Permanent Symbolic Revolution

Kuhn menggambarkan bahwa Copernican Revolution adalah revolusi gagasan, transformasi konsepsi tentang alam semesta. Dalam bahasa Bourdieu “revolusi gagasan” berarti sebuah revolusi simbolik yang meredefinisi makna, perspektif, representasi, atau cara pandang dunia (world view). Melalui gambaran singkat di atas, kita memahami bagaimana Bourdieu dan Kuhn secara imajinatif menggambarkan proses revolusioner dari perkembangan progresif (revolutionary development) seni dan ilmu. Secara literer dan imajinatif Bourdieu dan Kuhn menegaskan bahwa seni dan ilmu tidak berkembang secara linier, tetapi melalui patahan revolusioner (revolutionary rupture) cara pandang atau way of thinking atau world view. Bourdieu menisbahkan patahan revolusioner tersebut dalam terminologi revolusi simbolik[16] sedangkan Kuhn menisbahkannya sebagai revolusi saintifik (paradigma). Kedua

terminologi tersebut menunjuk persamaan dalam tujuan (objective) untuk menjelaskan proses perkembangan revolusioner seni dan ilmu.

Bourdieu memberikan perspektif sosiologis perubahan progresif seni melalui Teori Praktis, sedangkan Kuhn sebagai sejarawan ilmu memberikan mekanisme perubahan progresif ilmu. Bordieu dan Kuhn meyakini bahwa, “revolutions as changes of world view.” Kuhn menegaskan sebagai sejarawan ilmu (historian of science), “when paradigm change, the world itself changes with them… after a revolution, scientists are responding to a different world… inhabitants of the scientist sees of the scientist’s world, seeing what the scientist sees and responding as the scientist does.”22 Perubahan cara pandang dunia baru dalam ilmu, menurut Kuhn melibatkan suatu jaringan sosial (social network) para saintis  atau “inhabitans of the scientist” tertentu dalam suatu periode waktu tertentu, ketika krisis atau revolutionary rupture berlangsung hingga terbentuk ilmu revolusioner baru (new normal science). Bourdieu menjelaskan revolusi simbolik dengan cara serupa berdasarkan Teori Praktik dan menganalisis teori seni melalui karya besarnya Manet: A Symbolic Revolution[17] juga kumpulan esai The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature.[18]

Bourdieu menjelaskan fenomena praktik (practice) revolusi simbolik arena seni Manet dan teman-teman revolusionernya “melawan” para pelukis pompier. Istilah pompier diatributkan pada seniman Akademi Seni Rupa Perancis (Academie des Beaux-Arts) seperti William-Adolphe Bouguereau dan Jean-Leon Gerome dengan norma estetika dominan pada abad ke-19 dan “dilindungi” negara Kekaisaran Kedua Perancis, 1852 – 1870). Kata Bordieu, “pompier artists often came from more modest social stock than the revolutionaries who toppled them,…revolutionaries are often privileged, well heeled people…Manet,…and his

dari frekuensi kemunculan dalam teks historis atau debat kontemporer; c. indikator ketidakselarasan, misal deteksi misrecognition (kesalahan pengenalan) yang runtuh, di mana yang didominasi mempertanyakan legitimasi dominan. Berarti, revolusi simbolik adalah pembalikan dominasi melalui redefinisi makna. Sebuah “pemberontakan simbolik” seperti yang ditunjukkan Manet dalam seni rupa dan Flaubert dalam sastra. 22 “Ketika paradigma berubah, dunia itu sendiri berubah bersamanya… setelah revolusi, para ilmuwan merespons dunia yang berbeda, “penghuni” dunia ilmuwan melihat dunia ilmuwan, melihat apa yang dilihat ilmuwan dan merespons seperti yang dilakukan ilmuwan.”

revolutionary disposition (habitus, pen.)…he was born into privilege…more importantly (reason of, pen)…the success of the revolution he started…would have been inconceivable if his considerable capital had consisted merely of the requisite academic and academically certified skill, and if he had not also had social capital, connections and therefore a certain amount of symbolic capital linked to his friends[19]…The revolution that Manet started, which was in fact the revolutionary of modern art.”26

Bourdieu memakai terminologi “revolusi simbolik” (symbolic revolution) untuk menggambarkan mekanisme perubahan internal arena seni (dan ilmu). Bourdieu menjelaskan bagaimana revolusi simbolik arena seni Perancis oleh Edouard Manet yang disanjung sebagai “pelopor” gerakan (sosial) modernisme dan impressionisme bersama dengan para pelukis seangkatannya. Sebuah revolusi simbolik arena seni (transformasi mendalam atas world-view atau persepsi, representasi, dan nilai seni), atau penolakan terhadap praktik “seni akademik tradisional” atau pompier painting atau lukisan yang “representing in classical dress”.[20] Revolusi simbolik Manet, menurut Bourdieu, salah satunya ditunjukkan dengan karya Manet paling terkenal Olympia (dilukis tahun 1863, dipamerkan tahun 1865 di Paris Salon), juga Le Dejeuner sur l’herbe[21] (1963) mengguncang dunia seni akademik tradisional dan “masyarakat” serta berdampak besar pada generasi seniman berikutnya. Bourdieu menunjukkan melalui revolusi simbolik arena seni Manet, bahwa sebuah perubahan progresif atau revolusi dalam seni (dan ilmu) atau arena produksi kultural (fields of cultural production) tak dapat dipisahkan dari prasyarat sosial (melibatkan interaksi dan dialektika triad habitus, modal, dan arena)  yang memungkinkan perubahan dalam struktur sosial atau arena sosial tersebut. Pada masa Manet misalnya, “Academy was in crisis and when the increase in the number of painters challenged the role of the state in defining artistic value,.. revolutionised the aesthetic order… (and) the new vision of the world that emerged from this upheaval.”[22]

Sebagai perbandingan, saya ingin mengutip penelitian doktoral Wayan Kun Adnyana tentang fenomena seni Pita Maha di Bali 1930-an. Secara literer, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Pita Maha adalah sebuah revolusi simbolik dalam seni lukis Bali. Sebuah gerakan sosial yang melibatkan para pelukis dengan habitus dan modal tertentu, yang merombak secara progresif world-view arena produksi kultural (seni) di Bali. Adnyana menemukan, “gerakan sosial seni lukis Pita Maha 1930-an merupakan gelombang praktik seni lukis secara massif. Gerakan sosial seni memiliki basis berupa habitus pembaruan serta dukungan kapital budaya, kapital simbolis, dan kapital ekonomi dari komponen penyangga seni di arena seni yang kompleks.”30

Selanjutnya, perubahan struktural di arena seni tersebut menurut Adnyana, melibatkan sejumlah alat produksi utama seperti ideologi (subjek pencipta dan estetika); lembaga kunstkring (kelompok seni) dan kolektor, pariwisata, pengurus, dan kritikus; serta pelukis anggota Pita Maha itu sendiri.[23]  Ya, penemuan ini jelas menunjukkan suatu perubahan progresif dalam kemajuan seni di Bali pada tahun 1930-an32, sebuah perubahan struktural dalam arena produksi kultural (arena seni). Jadi Pita Maha adalah suatu revolusi simbolik sesuai dengan prasyarat sosial dari Teori Praktik Bourdieu. Juga memenuhi kerangka perubahan paradigmatik Kuhn yang melibatkan krisis (revolutionary rupture) dalam worldview lama, yang menghasilkan world-view baru.

Bourdieu sangat jelas mengatakan, ketika seni belum mencapai otonomi, maka revolusi simbolik Manet dan para Impressionis di jamannya merupakan social movement (gerakan sosial) seni modern, pemberontakan simbolik terhadap makna (struktur mental) lama, sebuah transformasi makna bahkan paralel dengan “revolusi agama,” kata Bourdieu,

the modern painting movement which was born in France around 1870 – 1880the collective conversion of modes of thought[24] menciptakan “logika” baru seni lukis modern, melalui, “contradictions introduced by the numerical increase of the population of established painters and unknown artists contributed to the overthrow of the social structure of the academic apparatus (ateliers, salons, etc) and the mental structures associated with it.[25] Dalam periode bergejolak di masa krisis tersebut juga melahirkan para pendukung yang mengalami habitus terbelah atau cleft habitus (agents bridging different, conflicting worlds).[26]

Seni dan ilmu dalam perenungan pribadi saya, sebenarnya keduanya secara imajinatif berakar pada simbol[27] dan simbolik.[28] Perubahan progresif pada cara pandang dunia atau world-view pada karya seni lukis Manet dan Impresionis, pada gerakan sosial seni lukis |Bali tahun 1930-an Pita Maha, bahkan pada perubahan progresif puisi (dan prosa) bebas Angkatan 1945 Chairil Anwar dan kawan-kawan berkompetisi dengan Pujangga Lama dan Pujangga Baru.[29] Tentu saja perubahan revolusioner world-view heliosentris  Copernicus terhadap geosentris Ptolemeus,[30] world-view fisika Newtonian dengan fisika Aristotelian. Dalam fenomena Manet dan jaringan (gerakan) sosialnya, mereka menantang French Academy dengan membongkar “aturan-aturan” produksi seni, “a monopoly of the power to say who is painter and who is not, what is a painting and what is not,” kekuasaan simbolik (symbolic power) yang melahirkan kekerasan simbolik (symbolic violence) penghambat perubahan progresif dalam seni (dan ilmu).

Kenapa saya lebih “memilih” terminologi revolusi simbolik Bourdieu untuk menjelaskan perubahan revolusioner atau progresif seni dan ilmu? Khususnya, dan terutama, karena kelengkapan Teori Praktik Bourdieu dalam menjelaskan suatu praktik sosial, tentu juga praktik sosial seni dan ilmu, yang melibatkan secara sekaligus hubungan dialektik antara subjek dengan objek, agen dengan struktur, melibatkan triad habitus (agen), yang posisinya di dalam arena sosial (seni dan ilmu) ditentukan oleh modal (budaya, simbolik, sosial, dan ekonomi) yang diusung para agen untuk berkompetisi di dalam arena sosial, baik sebagai “conservation agent” maupun “subversion agent” dengan strateginya masing-masing. Kata Bourdieu, “transformations of the structure of the field are the product of strategies for conservation or subversion.”[31]

Bagaimana hubungan Bourdieu dengan Kuhn? Dalam Manet: A Symbolic Revolution, Bourdieu menyatakan, “paradigm shift on the whole are akin to symbolic revolutions, except for small distinction.”[32] Persamaan dan perbedaannya dijabarkan Bourdieu dalam risalah The Specifity of the Scientific Field and the Social Condition of the Progress of Reason. Bordieu mengkritik bahwa model revolusi saintifik Kuhn hanya berlaku pada awal “kelahiran ilmu” ketika revolusi simbolik Copernican membebaskan ilmu yang “embedded[33] dalam agama dan negara[34], demikian pula revolusi simbolik Manet membebaskan seni yang ”embedded” dalam negara dan akademi seni. Kata Kuhn,”Kuhn’s theory…valid for beginning of science (for which the Copernican revolution provides the paradigm – in the true sense of the word).44 Berarti revolusi sejenis Copernican dan Manet berlaku pada awal “kelahiran” ilmu dan seni yang masih harus berjuang untuk otonom, “Copernican revolution (and Manet revolution, pen) implies an express demand for autonomy for a scientific field (and art or cultural production field, pen) still “embedded”in the religious field and the field of philosophy, and through them, in the political field, (thus) … in the name of the specific legitimacy which they derive from their competence.”[35]

Lalu apakah revolusi seni dan ilmu  berakhir setelah seni dan ilmu menjadi dewasa dan “berdiri sendiri” atau otonom? Setelah terlepas dari ikatan langsung faktor hegemonik agama dan politik/negara di masa Copernican dan Manet? Tidak, kata Bourdieu. Yang terjadi berikutnya, kalau di masa awal perkembangan seni dan ilmu demikian dramatis (oversimplifies), maka ketika seni dan ilmu sudah otonom, kata kunci dari penjelasan Bourdieu di atas adalah kembalinya otonomi dan kompetensi seni dan ilmu. Terminologi yang lebih tepat kata Bourdieu adalah  “orderly revolution” atau revolusi teratur (diambil Bourdieu dari Bachelard “revolution ordonness”), di mana metode revolusi ilmu (dan metode revolusi seni, pen) dibangun di dalam mekanisme arena seni dan ilmu itu sendiri, dimana kompetisi antar seniman dan ilmuwan untuk modal simbolik (symbolic capital), kritik metodologi, kritik penelitian empiris, kritik seni dan ilmu, kritik “peer review” dan lain-lain berlangsung dalam arena seni dan ilmu itu sendiri.

Seni dan ilmu mengatur dirinya sendiri dalam aturan internalnya, maka, “the field of (science and art, pen) becomes the scene of a permanent revolution[36] but a revolution that is increasingly devoid of political effect.[37] Berarti revolusi akan terus menerus terjadi dalam arena seni dan ilmu di zaman kita, hingga hari kiamat. Tetapi, tidak lagi dalam bentuk revolusi sedramatis Copernican Revolution dan Manet Revolution. Bentuknya menurut Bourdieu adalah revolusi teratur yang permanen, atau sebuah revolusi permanen yang teratur. Sebuah revolusi yang semakin kehilangan efek politiknya, Bernama revolusi simbolik permanen (yang) teratur! atau Orderly Permanent Symbolic Revolution.[38]

Dengan revolusi simbolik permanen (yang) teratur, maka tidak terjadi perubahan total berupa revolusi total terhadap “paradigma” Newton oleh Einstein, misalnya. Ilmu tidak lagi bergantung pada hegemoni negara dan agama. Lembaga ilmiah universitas sangat otonom, jurnal ilmiah juga mandiri (seperti Annalen der Physik), kemudian eksperimen, matematika skolastik, dan melalui keduanya, dalam bidang politik,..(jadi) …atas nama legitimasi khusus yang mereka miliki berdasarkan kompetensi mereka.

dan peer review sudah tertanam dalam arena ilmu da seni. Einstein hanya bertarung secara kritis dengan para “guardian” Newtonian seperti Lorentz, Poincare, juga Max Planck, dengan peralatan matematika tensor dari Riemann.  Kompetisi antar ilmuwan juga sangat keras untuk merebut modal simbolik (pengakuan, kutipan, posisi akademik hingga hadiah Nobel).

Pandangan baru seperti Einstein juga menjadi bahan kajian ilmiah di lingkungan ilmuwan bergengsi Inggris, walau dalam suasana perang dunia pertama yang sangat pahit. Royal Society Inggris tetap dengan bangga menjunjung tinggi slogan, “We are the independent scientific academy of the UK, dedicated to promoting excellence in science for the benefit of humanity.” Hipotesis Einstein diuji oleh salah satu anggotanya Arthur Eddington yang memberikan konfirmasi perdana tentang Teori Relativitas Umum Einstein.[39] Inilah yang disebut Bourdieu sebagai “orderly revolution” yang terjadi di dalam arena ilmu itu sendiri, ilmu terus maju, walau perubahannya tidak sedramatis Revolusi Copernican. Apakah dengan terkonfirmasinya teori Einstein, maka berakhir total paradigma Newton? Ternyata tidak, Newton memberikan “limit case” untuk kecepatan rendah yang tetap sangat berguna dan akurat dalam kehidupan kita sehari-hari,[40] bukan untuk kecepatan cahaya. Einstein dalam perspektif Bourdieu merupakan contoh revolusi simbolik dalam arena ilmu yang sudah otonom, yang sudah “self-regulating”.

Adakah kemajuan dari setiap revolusi simbolik dalam ilmu (dan seni)? Kata Kuhn, “Saya tidak meragukan, bahwa mekanika Newton memperbaiki mekanika Aristoteles, dan mekanika Einstein memperbaiki mekanika Newton, dalam memecahkan masalah.”[41] Kemudian Bourdieu secara metaforis menyimpulkan, “a symbolic revolution, analogous to the great religious revolutions.”[42] Intinya, perubahan revolusioner dalam seni dan ilmu merupakan perubahan cara pandang dunia, maka, “The Copernican Revoluttion (symbolic revolution, pen) was a revolution of ideas, a transformation in man’s conception of the universe!”[43] Kita simpulkan, bahwa perubahan progresif seni dan ilmu secara otonom relatif (relative autonomy) sangat signifikan bagi kemajuan seni dan ilmu, melalui revolusi simbolik permanen (yang) teratur, atau Orderly Permanent Symbolic Revolution.

Metarevolusi: Memajukan Kemanusiaan

Kita sudah menjawab (secara tentatif) dua pertanyaan awal orasi ilmiah ini tentang a. Bagaimana perubahan seni dan ilmu itu dilakukan?; b. Apakah perubahan tersebut signifikan bagi kemajuan seni dan ilmu?; Untuk menjawab pertanyaan ketiga, c. Apakah proses dan tujuannya memuliakan manusia dan meninggikan kemanusiaan?  Jawabannya adalah Ya! Berdasarkan dua teori perubahan progresif seni dan ilmu di atas, yaitu revolusi simbolik Pierre Bourdieu dan revolusi saintifik (paradigma) Thomas S. Kuhn. Kita merasakan drama kolektif pergulatan kemandirian ilmu pada Revolusi Copernican oleh Nicolaus Copernicus (1473 – 1543), perubahan world-view geosentris ke heliosentris, berujung tragis dengan dihukum mati dibakar hidup-hidup matematikawan, kosmolog dan filsuf Giurdano Bruno (1548 – 1600) oleh Inkuisisi Roma. Juga hukum pengucilan (tahanan rumah) sampai wafat terhadap astronom, fisikawan Italia Galileo Galilei  (1564 – 1642), pendukung paradigma heliosentris Copernicus.[44] Kita merasakan drama kolektif[45] emansipasi kemandirian seni Revolusi Manetian oleh Edouard Manet (1832 – 1883) membongkar world-view akademi seni dan negara, arena seni menjadi otonom, juga gerakan sosial seni lukis Pita Maha. Sebuah proses kolektif dramatis pembebasan seni dan ilmu dari berbagai hegemoni yang menghambat kemajuan. Memperlihatkan “optimisme-kritis” untuk memuliakan manusia dan meninggikan kemanusiaan, metarevolusi, sebuah gerakan kolektif nilai memajukan humanisme global.

Menutup orasi ilmiah ini, yang lebih tepat, menurut saya sebagai pengantar diskusi penelitian seni dan ilmu khususnya di Indonesia terkait dengan cara pandang (baru) Orderly Permanent Symbolic Revolution dan Metarevolusi.[46] Saya ingin berbagi pengalaman spiritualhistoris sebagai diplomat dan aktivis kebudayaan, setelah bertahun-tahun mengalami perang Rusia – Ukraina, perang berkelanjutan Palestina – Israel di Gaza, merintis revolusi simbolik 21 Mei 1998 menegakkan world-view demokrasi melawan world-view antidemokrasi di Indonesia, mendukung Indonesia sebagai anggota BRICS dan merintis Free Trade Agreement Indonesia – Eurasian Economic Union, juga Indonesia – Eurasian Friendship, di mana Eurasia-Indonesia menjadi simbol baru pertemuan peradaban dan kebudayaan, tapi dengan perasaan getir juga menjadi saksi gejolak geopolitik, geoekonomi dan geokultural dunia yang mengorbankan manusia dan kemanusiaan.[47]

Suatu hari dalam perjalanan di antara perubahan musim dingin dan musim panas di Moskow, Rusia. Saya berdiri di makam sastrawan besar dunia, penyair dan novelis yang hidup di tengah gejolak sosial Revolusi Bolshevik, Boris A. Pasternak. Pasternak adalah pemenang Nobel Kesusastraan tahun 1958 yang tak pernah dihadiri dan diterimanya karena diancam rezim totaliter Uni Soviet. Hari itu  makam Pasternak disiram matahari musim panas bulan Juli 2023 dan di rumah perpustakaan Pasternak di musim dingin minus 15 derajat Celcius di bulan Desember 2025 di Peredelkino pinggiran kota Moskow.

Saya menghibahkan novel Doctor Zhivago terjemahan Bahasa Indonesia, sambil merenungkan kata-kata Doctor Zhivago,[48]Manusia dilahirkan buat hidup, bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup. Hidup itu sendiri, fenomena hidup, anugerah hidup, bukan main seriusnya…Membentuk kembali hidup! Orang yang bisa mengatakan itu tak pernah mengerti apapun tentang hidup – mereka itu tak pernah bisa merasakan hembusan nafas, detak jantungnya, betapapun seringnya hal itu mereka lihat atau lakukan. Mereka hanya melihatnya sebagai segumpal bahan mentah yang perlu diolah, dibuat berharga dengan sentuhan mereka. Tetapi hidup bukanlah suatu bahan atau substansi untuk dibentuk…Hidup senantiasa memperbarui, menciptakan kembali, mengubah dan meningkatkan dirinya sendiri…”

Ya, manusia konkret[49] dilahirkan untuk hidup. Hidup senantiasa memperbaharui, menciptakan kembali, mengubah dan meningkatkan dirinya sendiri, salah satunya dengan kemajuan progresif arena seni dan ilmu melalui revolusi simbolik permanen (yang) teratur atau Orderly Permanent Symbolic Revolution.

Sedangkan, ukuran terakhir bagi manusia konkret  adalah: kebahagiaan![50] Panta Rei!

Ars longa, vita brevis 

 

Daftar Pustaka

Adnyana, Wayan Kun. (2018). Pita Maha: Gerakan Sosial Seni Lukis Bali 1930-an. Jakarta:  Kepustakaan Populer Gramedia.

Bourdieu, Pierre. (1975). The Specifity of the Scientific Field and the Social Condition of the  Progress of Reason. Reason dalam http://journals.sagepub.com. Downloaded from  http://ssi.sagepub.com at Stockholms University.

———— (1977). Outline of A Theory of Practice. London: Cambridge University Press/ ———–. (1984). Homo Academicus. California: Stanford University Press.

———–. (1986). “The Forms of Capital”. Dalam J. Richardson (ed.), Handbook of Theory  and Research for Sociology of Education. New York: Greenwood.

———–. (1990a). In Other Worlds: Essays Toward a Reflexive Sociology. Cambridge: Polity  Press

———–. (1990b). The Logic of Practice. Cambridge: Polity Press

———–, and Passeron, J.C. (1990c). Reproduction in Education, Society and Culture.  London: Sage Publications.

———–. (1991). Language and Symbolic Power. Massachustts: Harvard University Press ———–. (1993). The Field of Cultural Production. Oxford: Polity Press.

———–. (1995) The Rules of Art: Genesis and Structure of the Literary Field. Stanford,  California: Stanford University Press.

———–. (1998). Practical Reason. Stanford: Stanford University Press.

———–. (2000a). Act of Resistance: Against the New Myth of Our Time. Cambridge: Polity  Press

———-. (2000b). Pascalian Meditations. Cambridge: Polity Press

———-. (2010). Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. London and New  York: Routledge Classics.

———-. (2014). On the State: Lectures at the College de France 1989 – 1992. London: Polity  Press

————. (2017). Manet: A Symbolic Revolution. Cambridge: Polity Press.

————. (2018). Classification Struggles: General Sociology. Volume 1. Cambridge: Polity  Press

———–. (2020). Habitus and Field. Cambridge: Polity Press.

Defoe, Daniel. (1719). Robinson Crusoe. Great Britain: William Taylor.

Eagleton, Terry. (1990). The Ideology of the Aesthetic. Oxford: Blackwell.

Kuhn, Thomas S. (1957). The Copernican Revolution. Cambridge: Harvard University Press.

———–. (1962). The Structure of Scientific Revolutions. Chicago dan London: University of  Chicago

Pasternak, Boris. (1960). Dokter Zhivago. Jakarta: Penerbit Djambatan. Diterjemahkan oleh  Trisno Sumardjo.

Paolucci, Gabriella (ed.). (2022). Bourdieu and Marx: Practices of Critique. Switzerland:  Palgrave Macmillan.

Popper, Karl. (1968). The Logic of Scientific Discovery. Edisi Kedua. New York: Harper Torchbooks.

Rachman, M. Fadjroel. (2024). Indonesia Memilih Presiden (Analisis Kelas Bourdieu  Terhadap Pemilih Indonesia. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Speller, John R.W. (2011). Bourdieu and Literature. Cambridge: Open Book Publisher.

Sudjatmoko. (1984). Etika Pembebasan. Jakarta: LP3ES.

Dr. M. Fadjroel Rachman menulis Trilogi Nusakambangan, tiga antologi puisi, berjudul Catatan Bawah Tanah (Yayasan Obor Indonesia, 1993 dan Kepustakaan Populer Gramedia, 2024), Sejarah Lari Tergesa (Gramedia Pustaka Utama, 2005. Nominee Khatulistiwa Literary Award 2005), dan Dongeng Untuk Poppy (Bentang Pustaka, 2007. Nominee Khatulistiwa Literary Award 2007). Trilogi Nusakambangan ditulis tangan (sebagian dihapal) ketika Fadjroel di Penjara Pulau Nusakambangan, Sukamiskin, Kebon Waru, Penjara Militer Bakorstanasda Jawa Barat, tahanan politik rejim totaliter Soeharto-Orde Baru selama tiga tahun, sebagai pimpinan mahasiswa ITB, pemimpin redaksi Majalah Ganesha, dan presiden Grup Apresiasi Sastra ITB. Fadjroel doktor komunikasi politik di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Indonesia. Ia menulis novel Bulan Jingga Dalam Kepala (Gramedia Pustaka Utama, 2007) dan antologi bersama Pesta Sastra Indonesia (Pikiran Rakyat, 1985). Karya puisi Fadjroel terpilih dalam 100 Puisi  Indonesia Terbaik 2008 (Gramedia Pustaka Utama, 2008). Anugerah Sastra Pena Kencana 2008), diundang Teater Utan Kayu membaca Dongeng Untuk Poppy (9 November 2007). Tokoh Muda Inspiratif  Kompas Tahun 2009 sebagai Pegiat Anti Korupsi. Penghargaan Pemimpin Pancasila Tahun 2014, dari Yayasan Indonesia Satu. Penulis makalah pada Maulana Jalaluddin Rumi – The Great Herald of Unity and Dialogue Civilizations, Dushanbe, Tajikistan, 2022. Membaca puisi pada Perayaan 100 Tahun Chairil Anwar, 26 Juli 2023, di Hari Puisi Indonesia, Teater Kecil TIM, dan pada World Book Day, Hari Puisi Nasional 75 Tahun Chairil Anwar dan 179 Tahun Abai Kunanbayev di National Academic Library of Kazakhstan, 23 April 2024. Esai Fadjroel Jangan Pernah Letih Mencintai Indonesia dinobatkan sebagai Opini Kemerdekaan 2024 Terpilih harian Kompas pada 16 Agustus 2024. Sebagai sastrawan Fadjroel diakui Leksikon Penyair Kalimantan Selatan 1930-2020 (Micky Hidayat, et al (ed.), Tahura Mandiri, Agustus 2020), Apa dan Siapa Penyair Indonesia (Yayasan Hari Puisi, Jakarta, 2017), Ensiklopedi Sastra Indonesia (Hasanuddin WS, et al (ed.), Titian Ilmu, 2007), Buku Pintar Sastra Indonesia (Pamusuk Eneste (ed.), Penerbit Buku Kompas, 2001), Leksikon Susastra Indonesia (Korrie Layun Rampan (ed.), Balai Pustaka, 2000). Leksikon Sastra Indonesia (Victor A. Pogadaev dan Vilen Sikorsky, Penerbit VKN, 2025. Berbahasa Rusia). Fadjroel menulis puisi, esai, opini, di majalah sastra dan kebudayaan Horison, kolumnis harian Kompas, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Banjarmasin Post, Koran Tempo, dan lain-lain. Karya lainnya: Indonesia Memilih Presiden (KPG, 2024), Democracy Without the Democrats: On Freedom, Democracy and the Welfare State (FES, 2007), Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat (Koekoesan, 2006), Bertarung Untuk Demokrasi (KPM ITB, 1989), Revolusi Demokrasi (YOI, 1994, pengantar), Sutan Sjahrir: Guru Bangsa (Komunitas Guntur, 1999, ed.), Menggugat Indonesia (Pledoi Pengadilan Mahasiswa Indonesia, ITB, 1989). Dianugerahi gelar I Pallatui Daeng Manrapi (cendekiawan, pemikir arif dan bijaksana) dari Dewan Adat Saoraja Kabupaten Bone. Dua kali pemenang Runner-Up Social Media Award untuk Duta Besar dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (tahun 2021 dan 2022). Dianugerahi Penghargaan Khusus Kabar Makassar Award 2020 untuk Keberpihakan pada Kemajuan Indonesiasentris. Dianugerahi Penghargaan Internasional Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha Tahun 2026 oleh Institut Seni Indonesia – Bali atau ISI Bali, menulis Orasi Ilmiah “Revolusi Simbolik Seni dan Ilmu, Ke Arah Metarevolusi Humanisme Global.” Presiden Komisaris PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (20152019) dan Juru Bicara Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (2019-2021). Sejak 2021- sekarang, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Republik Kazakhstan dan Republik Tajikistan.

[1] Isteri saya Poppy Yoeska, S,H dan dua putra saya: Mahatma Yudhistira Kusuma Putera, S.H.,LL.M; Dokter Krishna Satyagraha Kusuma Putera, S.Ked.

[2] Presiden Soekarno mengutip istilah Pantha Rei atau Panta Rei dalam pidato Penemuan Kembali Revolusi Kita pada peringatan kemerdekaan Republik Indonesia ke-14, tanggal 17 Agustus 1959.

[3] Kemampuan pemusnahan manusia berjalan eksponensial, dimulai dari pembunuhan pertama manusia oleh manusia, diabadikan dalam kitab suci, dilakukan oleh Qabil terhadap saudara kandungnya Habil, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Keduanya anak kandung Nabi Adam dan Siti Hawa. Kemudian perang-perang, genosida politik, perang saudara, dari masa lalu hingga masa kini, sudah tak terhitung jumlahnya. Untuk perbandingan, Perang Genghis Khan (1206 – 1227) menaklukkan Asia dan Eropa Timur sudah mulai menelan nyawa dalam hitungan jutaan orang, Perang Dunia I (1914 – 1918) menelan nyawa 15 – 22 juta orang (militer dan sipil), lalu Perang Dunia II (1939 -1945) dengan Hitler sebagai tokoh utamanya mencapai lebih dari 70 juta orang (militer dan sipil) termasuk peledakan bom nuklir di Hiroshima (6 Agustus 1945) menelan nyawa seketika 70.000 – 80.000 orang, terus bertambah hingga akhir 1945 menjadi 140.000 jiwa akibat luka bakar, radiasi, dan penyakit terkait, lalu di Nagasaki (9 Agustus 1945) menelan nyawa seketika 70.000 – 73.000. Manusia bisa membunuh siapa saja: bayi, anak-anak, perempuan, orang tua, tak terkecuali.

[4] Pierre Bourdieu, Outline of  A Theory of Practice (London: Cambridge University Press, 1977)

[5] M. Fadjroel Rachman, “Distingsi Pemilih di Indonesia (Studi Interpretative Phenomenological Analysis Habitus Kelas dan Perilaku Memilih dalam Komunikasi Politik dengan Pendekatan Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu).” Disertasi diajukan di Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, 2021. Lihat juga, M. Fadjroel Rachman, Indonesia Memilih Presiden (Analisis Kelas Bourdieu Terhadap Pemilih Indonesia, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2024). Lihat juga Wayan Kun Adnyana, Pita Maha: Gerakan Sosial Seni Lukis Bali 1930-an, (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018)

[6] Theodore W., Adorno, Aesthetic Theory (London: Continuum, 2002).

[7] Walter Benjamin, The Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility and Other Wtitings on Media

(Cambridge : Harvard University Press, 2008).

[8] Thomas S., Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions (Chicago: University of Chicago Press, 1962)

[9] Karl Popper, The Logic of Scientific Discovery. Edisi Kedua. (New York: Harper Torchbooks, 1968) 11 Rumus Bourdieu ini menyatakan praktik (sosial) merupakan resultante disposisi habitus individu (kelas) dengan menavigasi modal-modal agar menjadi dominan (hegemonik) di dalam suatu arena.

[10] Michael Grenfell, Pierre Bourdieu: Key Concepts (Durham: Acumen Publishing Ltd, 2008), hlm. 51.

[11] Terminologi habitus selalu dinisbahkan sebagai konsep kunci Pierre Bourdieu, walaupun terminologi tak bisa berdiri sendiri untuk menjelaskan teori utama Bourdieu yaitu Teori Praktik (Theory of Practice), harus dikaitkan dengan capital (modal) dan field (arena), untuk membentuk Rumus Bourdieu atau Bourdieu’s Equation. 14 Pierre Bourdieu, Classification Struggles: General Sociology. Volume 1. (Cambridge: Polity Press, 2018), hlm.2.

[12] Terry Eagleton, The Ideology of the Aesthetic (Oxford: Blackwell, 1990)

[13] Pierre Bourdieu, Language and Symbolic Power (Massachusset: Harvard University Press, 1991)

[14] Thomas S. Kuhn, The Copernican Revolution, (Cambridge: Harvard University Press,1957), hlm. 1.  Kuhn lebih tua 8 (delapan) tahun dibandingkan Pierre Bourdie. Kuhn lahir 18 Juli 1922 dan wafat 17 Juni 1996, sedangkan Bourdieu lahir 1 Agustus 1930 dan wafat 23 Januari 2002. Keduanya tentu saling mengenal karya masing-masing, namun Kuhn dipengaruhi Karl R. Popper, Paul Feyerabend, Imre Lakatos. Sedangkan Bourdieu dipengaruhi Michel Foucoult (sahabat), Emile Durkheim, dan Max Weber.

[15] Karl R. Popper, The Logic of Scientific Discovery. Edisi Kedua, (New York: Harper Torchbooks, 1968). Metodologi ilmiah Karl. R. Popper seringkali disebut metodologi pemecahan masalah atai problem-solving methodology karena selalu dirumuskan dari problem empiris dan dapat disangkal secara empiris pula. Metodologinya dapat diskemakan sebagai berikut: => P1 => TS1 => EE1 => P2 => TS2 => EE2 => dan seterusnya selalu terbuka. Di mana P1 = Problem pertama (awal); TS1 = Tentative Solution pertama (pemecahan sementara, teori yang diajucobakan); EE1 = Error Elimination pertama (evaluasi kritis, kritik dengan observasi atau eksperimen), dengan tujuan menemukan dan membuang kesalahan); P2 = Problem kedua setelah EE1; TS2 = Tentative Solution kedua (pemecahan sementara kedua yang diajucobakan, kemudian akan menghadapi evaluasi kritis lagi dengan EE2, dan seterusnya tanpa akhir). Dengan demikian ilmu (sains) selalu bermula dari problem dan berakhir dengan problem pula. Kritik atau evaluasi kritis dalam kerangka metodologi pemecahan masalah Popperian mutlak diperlukan untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan mencegah absolutisme pemikiran dan tindakan dalam praktik ilmu.

[16] Terminologi “revolusi simbolik” secara praktis menggambarkan proses radikal di mana aktor sosial  (seniman, ilmuwan, intelektual) menantang dan merestrukturisasi skema persepsi, klasifikasi, dan nilai simbolik yang dominan dalam suatu arena sosial (field), menciptakan perubahan mendalam dalam tatanan simbolik tanpa harus melalui kekerasan fisik. Mirip dengan revolusi agama (ilmu dan seni) yang membalikkan struktur kognitif dan mempengaruhi struktur sosial. Definisi operasional: revolusi simbolik dapat dioperasionalkan sebagai mekanisme perubahan internal dalam arena (field) yang dapat diamati dan diukur melalui indikator empiris, seperti munculnya praktik baru yang menolak norma ortodoks, pergeseran dalam diskursus atau bahasa yang mendefinisikan “apa yang sah”, dan transformasi dalam hubungan kekuasaan simbolik antar aktor. Dalam analisis bisa diukur dengan a. pengamatan perubahan struktural, misal Manet mengubah aturan seni dengan karya yang menentang akademisme (lihat Olympia) yang merevolusi cara apresiasi seni visual; b. pengukuran dampak simbolik, misal revolusi Manet ini menghasilkan “heresi” (penyimpangan) yang menjadi norma baru, diukur

[17] Pierre Bourdieu, Manet: A Symbolic Revolution (Cambridge: Polity Press, 2017), hlm. 6.

[18] Pierre Bourdieu, The Field of Cultural Production: Essays on Art and Literature (Cambridge: Polity Press,

1993). Khususnya esai tentang Manet and the Institutionalization of Anomic, hlm. 238. This second volume of Bourdieu’s previously unpublished lectures provides his most sustained contribution to the sociology of art and the analysis of cultural fields. It is also a major contribution to our understanding of impressionism and the works of Manet. What is a ‘symbolic revolution’? What happens when a symbolic revolutions occurs, how can it succeed and prevail?

[19] Kapital sosial jaringan dan pendukung Manet dari berbagai kalangan seniman papan atas (sastrawan, pelukis, dll) di Paris seperti: Emile Zola, Charles Baudelaire, Stephane Mallarme, Berthe Morisot, Edgar Degas, Claude

Monet, Pierre-Auguste Renoir, Alfred Sisley, Paul Cezanne, Camille Pissaro, dan Eugene Delacroix, dll. 26 Bourdieu, op.cit., hlm. 6. “Seniman Pompier sering berasal dari latar belakang sosial yang lebih sederhana dibandingkan dengan para revolusioner yang menggulingkan mereka,…para revolusioner sering kali adalah orang-orang dengan hak-hak istimewa dan kaya… Manet…. dengan kecencerungan (habitus) revolusioner… dia lahir dengan hak-hak istimewa…lebih penting lagi…kesuksesan revolusi yang dia mulai…sangat tidak terbayangkan jika modalnya yang cukup besar hanya terdiri dari keterampilan akademis yang diperlukan dan bersertifikat akademis, dan jika dia juga tidak memiliki modal sosial, koneksi, dan oleh karena itu sejumlah modal simbolis yang terkait dengan teman-temannya…revolusi yang dimulai Manet, sebenarnya adalah revolusi seni modern.”

[20] Bourdieu, op.cit., hlm. 5.

[21] The Luncheon on the Grass

[22] “Akademi berada dalam krisis dan ketika peningkatan jumlah pelukis menantang peran negara dalam mendefinisikan nilai artistik…merevolusi tatanan estetika…dan visi dunia baru yang muncul dari gejolak ini.” 30 Wayan Kun Adnyana, Pita Maha: Gerakan Sosial Seni Lukis Bali 1930-an (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2018), hlm. 208.

[23] Ibid., hlm.154. Menurut hemat saya, Pita Maha adalah contoh revolusi simbolik di Indonesia. Adapun karyakarya pasca-Pita Maha dapat dikategorikan sebagai bagian dari Orderly Permanent Symbolic Revolution. 32 Pita Maha membawa gaya lukis modern Bali (dengan teknik tinta hitam atau warna bumi), juga patung kayu yang menggambarkan cerita rakyat atau kehidupan sehari-hari rakyat Bali. Para pengusung gerakan sosial ini seperti I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made Togog, Anak Agung Gede Raka, I Gusti Nyoman Deblog, anak Agung Gede Sombrat, dan lain-lain. Bersama Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan pelukis lokal Ubud lainnya

[24] Bourdieu, op.cit., hlm., 238. “Gerakan seni lukis modern lahir di Perancis sekitar 1870 – 80…konversi (perubahan) kolektif dari cara berpikir.”

[25] Ibid. “kontradiksi yang diperkenalkan oleh peningkatan jumlah populasi pelukis mapan dan seniman yang tidak dikenal berkontribusi pada penggulingan struktur sosial dari aparat akademis (atelier, salon, dan lain-lain) dan struktur mental yang terkait dengannya.”

[26] Cleft habitus atau habitus yang terbelah, dimaknakan Bourdieu sebagai suatu kondisi individu yang terjebak antara habitus lama yang tertanam di masa lalu dan tuntutan habitus baru, menghasilkan ketegangan batin, rasa tidak nyaman, atau perasaan “asing” di lingkungan sosial atau arena sosial (field) baru.

[27] Symbol is a mark, sign, character, or object that represents an idea, process, function, or entity, often by convention or association. Symbol are used in language, mathematics, and science to concisely signify complex meanings (e.g., “=” for equality, “O” for oxygen). They enable communication by linking known visuals to abstract concepts.

[28] Symbolic order therefore means understanding the concordance between the objective structures of the social world and our cognitive structucture (through symbol, pen). Lihat Bourdieu, op.cit., hlm., 5.

[29] Hipotesis ini memerlukan penelitian khusus

[30] Geosentris meyakini bumi pusat tata surya, sedangkan heliosentris meyakini matahari pusat tata surya.

[31] Pierre Bourdieu, The Specifity of the Scientific Field and the Social Condition of the Progress of Reason dalam http://journals.sagepub.com, Desember 1975,  hlm. 27. Downloaded from http://ssi.sagepub.com at Stockholms Universitet on February 14, 2026. “Transformasi struktur arena (seni dan ilmu, pen) adalah dari strategi konservasi atau subversi.

[32] Perubahan paradigma secara keseluruhan mirip dengan revolusi simbolis, kecuali untuk perbedaan kecil. Lihat Bourdieu, op.cit., hlm. 244.

[33] Sinonim dengan kata: submerge, immerse, implant, atau secara umum berarti: terbenam

[34] Perubahan paradigma geosentris dan heliosentris ini sangat dramatis, sejarah ilmu pengetahuan mencatat Galileo Galilei ditahan di rumah seumur hidup, bahkan Giordano Bruno harus dihukum bakar sampai mati. 44 Teori Kuhn…berlaku untuk awal ilmu pengetahuan (di mana revolusi Copernicus menyediakan paradigma – dalam arti sebenarnya dari kata tersebut)

[35] Revolusi Copernicus (dan Revolusi Manet, pen) menyiratkan tuntutan tegas untuk otonomi bagi arena ilmiah (dan arena seni atau arena produksi kultural, pen) yang masih terbenam dalam arena agama dan arena filsafat

[36] Istilah permanent revolution mirip dengan istilah dari buku Leon Trotsky, The Permanent Revolution: The Resulst and Prospect (terbit perdana di St. Petersburg tahun 1906) diunduh dari jurnal www.marxist.org pada 20 Februari 2026. Istilah revolusi permanen dari Trotsky berarti revolusi yang berlangsung terus-menerus dalam skala dunia bukan dalam skal nasional. Istilah ini lebih bernuansa politik, sementara Bourdieu “devoid political effect.”

[37] Bouerdieu, op.,cit. hlm 33. “arena (seni dan ilmu, pen) (tetap) menjadi panggung revolusi permanen tetapi revolusi yang semakin kehilangan efek politik.

[38] Istilah yang saya usulkan sebagai ahli komunikasi adalah, Orderly Permanent Symbolic Revolution (Dr. M. Fadjroel Rachman) pada orasi ilmiah ini, pada 26 Februari 2026, di ISI Bali, Denpasar.

[39] Eddington expedition to observe the solar eclipse of 29 May 1919 on the Island of Príncipe that provided one of the earliest confirmations of Einstein’s general relativity.

[40] Pemakaian mobil, pesawat terbang, gedung pencakar langit seperti Burj Khalifa (828 meter), roket NASA, bahkan orbit bulan, masih memakai perhitungan Newton. Sedangkan menghitung Merkurius, atau lubang hitam, perhitungan Einstein lebih akurat.

[41] Rachman, M. Fadjroel, “Scientifico Critical Democracy” dalam Majalah Sastra dan Kebudayaan Horison No.08/XXXIX/1994. Hlm. 13-19. Lihat juga A.F. Chalmer, Apa itu yang Dinamakan Ilmu, (Jakarta: Hasta Mitra, 1983). Tahapan revolusi saintifik Kuhn Pra-ilmu  => Ilmu Baru => Anomali => Krisis => Revolusi => Ilmu Biasa Baru => Anomali Baru =>  Krisis Baru => dan seterusnya terbuka tanpa batas.

[42] Ibid. “sebuah revolusi simbolik, sebanding dengan revolusi-revolusi agama besar.”

[43] Thomas S. Kuhn, The Copernican Revolution ( Cambridge: Harvard University Press, 1957), hlm.1.

[44] Pemikiran tentang matahari sebagai pusat tata surya (heliosentris) dari Copernicus bertentangan dengan ajaran paradigma Aristoteles maupun keyakinan gereja bahwa bumi adalah pusat alam semesta (geosentris). Tahun 1992 Paus Yohanes Paulus II secara resmi memutuskan penghukuman terhadap Galieo Galilei itu salah, kemudian Gereja Katolik Roma melalui Paus Benediktus XVI merehabilitasi nama Galileo Galilei sebagai ilmuwan pada 21 Desember 2008.

[45] Bourdieu menekankan proses kolektif ketika menganalisis karya sastrawan Emile Zola ‘J’accuse’ is the outcome and fulfilment of a collective process of emancipation that is progressively carried out in the field of cultural production…in the name of autonomy. Lihat, Pierre Bourdieu, The Rules of Art, (Stanford, California: Stanford University Press, 1995), hlm.129.

[46] Rachman, op.cit., istilah saya sendiri Orderly Permanent Symbolic Revolution. Hasil penelitian kepustakaan d tentang revolusi simbolik Pierre Bourdieu dan revolusi saintifik (paradigma) Thomas S. Kuhn.

[47] FTA Indonesia – Eurasian Economic Union ditandatangani di Saint Petersburg, Rusia, pada tanggal 21 Desember 2026. Saya mengikuti perundingan dan hadir dalam penandatanganan yang melibatkan Kazakhstan, Rusia, Armenia, Belarus, dan Kyrgystan. FTA ini akan meningkatkan nilai perdagangan kedua entitas sebesar USD10 miliar, khusus Indonesia – Kazakhstan sebesar USD2 miliar.

[48] Boris Pasternak, Dokter Zhivago (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1960). Diterjemahkan oleh Trisno Sumardjo.

[49] Kata konkret, menurut KBBI, didefinisikan sebagai nyata, benar-benar ada, berwujud, dapat dilihat, atau diraba. Kata ini merujuk pada hal-hal yang memiliki wujud fisik dan dapat diobservasi secara langsung. Kata konkret diserap dari Bahasa Belada “concrete”.

[50] Sudjatmoko, Etika Pembebasan (Jakarta: LP3ES. Sudjatmoko, 1984). Sudjatmoko adalah guru saya, seorang intelektual internasional, menuliskan pandangan humanismenya dalam artikel  “…dalam usaha kita untuk membawa perkembangan masyarakat ke suatu arah tertentu, janganlah kita melupakan manusia sendiri, manusia konkret, Sebab manusia konkret, kebahagiaan serta kegirangan hidupnya, ialah satu-satunya alasan kita dalam berpolitik dan yang merupakan ukuran terakhir bagi kita.”

[1] Orasi ilmiah yang disampaikan pada penerimaan Penghargaan Internasional  Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha Tahun 2026 oleh Institut Seni Indonesia – Bali (ISI Bali), Denpasar 26 Februari 2026.